Showing posts with label Jawa. Show all posts
Showing posts with label Jawa. Show all posts

Saturday, 22 January 2011

Tata Krama Jawa

Kebudayaan Jawa sudah terkenal luas memiliki moralitas tinggi yang menjadi pendukung utama  budaya. Moralitas tidak saja dapat dilihat dari sisi psikologis dan historis, melainkan juga merupakan cerminan sikap hidup dan budaya yang lebih menyeluruh. Demikian pula dalam kultur Jawa, ada hal yang dianggap sebagai tonggak budaya dalam memperjuangkan tingkat hidup yang lebih tinggi yaitu moral "Mawas Diri" atau lebih kita kenal dengan sebutan "Introspeksi".

Melalui sejumlah kajian dan pembelajaran, Mawas Diri dapat dikatakan mewakili dasar pembentukan dan pelestarian "Tata Krama Jawa", yang terdiri dari:
1. Nandhing Sarira
Nandhing sarira merupakan yang paling rendah dalam pengkajian diri, karena masih mengutamakan "aku" yang egosentrisme. Nandhing sarira dapat diartikan bahwa kita masih suka membanding- bandingkan "aku" dengan orang lain. "Aku" harus terlihat lebih unggul, lebih baik, lebih terhormat, lebih mulia, lebih bergengsi, dll. Ujung-ujungnya kita berusaha sekuat tenaga untuk menjadi yang "ter", apabila secara positif dikaji dan dipikirkan, kemudian diambil hikmah terbaiknya maka nandhing sarira ini dapat digunakan untuk melihat sisi baik orang lain yang lebih tinggi dari kita. Bukan berarti kita harus selalu membanding-bandingkan diri kita dan keluarga kita dengan orang lain, tapi menjadikan keberhasilan orang lain sebagai motivasi agar kita dapat lebih bersemangat meningkatkan kreativitas, menggali potensi diri, dan mencapai standar yang lebih tinggi dalam kehidupan.

2. Ngukur Sarira
Ngukur sarira yakni kita harus bisa melihat dan menerima kelebihan orang lain. Melihat kelebihan orang lain secara positif untuk kita jadikan barometer dan motivasi agar secara dewasa lebih berjuang untuk meraih kemajuan dalam hidup.
 
3. Tepa Sarira
Tepa sarira (tepa slira) diartikan sebagai sikap mau merasakan perasaan orang lain. Sri Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama mengilustrasikan sikap tepa sarira dengan mencontohkan kepribadian Panembahan Senopati ing Mataram yang "karyenak tyase sesama" yang artinya adalah membuat enak, senang, dan damai perasaan sesama manusia. Apabila hal ini benar-benar kita kaji dan terapkan secara positif maka kita akan jauh dari sifat usil, licik, menyalahkan orang lain dalam bentuk apapun, iri dan dengki, dll. Apabila kita dapat menerapkan tepa sarira ini maka kita akan memiliki rasa kepedulian, positive thinking, akan selalu membahagiakan dan menyenangkan perasaan orang lain, dan kita berusaha menempatkan diri pada perasaan orang lain sebelum bertindak sesuatu.

4. Mawas Diri
Menurut Darmanto Jatman (1977), dalam wilayah ilmu Psikologi, mawas diri merupakan kegiatan manusia untuk menembus ke dataran religius etis. Mawas diri dimulai sejak kita melihat kebahagiaan dan kesusahan diri sendiri, melihat keadaan diri sendiri secara jujur. Melihat dan mengoreksi diri kita sendiri agar dapat lebih mengerti bagaimana hati nurani kita, sehingga kita lebih bertanggung jawab atas apa yang akan kita lakukan. Mawas diri dimaksudkan agar kita terhindar dari sikap semena-mena alias mau menang sendiri. Orang yang mawas diri harus dapat mengontrol pembicaraan, sikap, dan tingkah laku terhadap orang lain, sehingga dari sikap dan perkataannya tidak menyakiti orang lain. Bagaimanapun, diri kita adalah "bukan siapa-siapa" dan "bukan apa-apa" di mata Tuhan, maka kita tidak berhak berbuat yang dapat menyakiti hati orang lain.
 
5. Mulat Sarira
Seperti yang dikatakan oleh Darmanto Jatman (1977), apabila kita telah berhasil meneliti diri sendiri secara tuntas, maka kita akan mencapai tingkatan tertinggi yakni mulat sarira. Mulat sarira dapat digambarkan sebagai 'manusia tanpa ciri' atau menemukan jati dirinya yang universal, karena seseorang yang telah mengetahui bahwa 'aku' sebenarnya bukanlah aku, sebagai orang yang tidak dapat mengumbar nafsu sesuka hati. Melakukan segala hal harus ada batasan dan keprihatinan yang mendalam. Pelaksanaan secara positif dari puasa, tapa, semedi juga merupakan salah satu bentuk sikap mulat sarira. Mulat sarira melihat ke dalam diri sendiri, bahwa semua ketidakbenaran sebenarnya bermula dari diri sendiri. Soenarto dalam bukunya Serat Sasangka Jati menyebutkan, pengenalan diri dapat dilakukan dengan lima lelaku utama, yaitu Rila, Narima, Temen, Sabar, Budi Luhur.

Demikianlah, orang yang berkepribadian dewasa dan matang dapat melihat, mengetahui dan mengenali diri pribadi lebih dalam lagi. Sikap dan pemikiran dewasa dapat membawa manusia pada keunggulan pribadi. Juga dapat dipastikan manusia akan lebih dapat memaknai hubungannya dengan Tuhan yang Maha Esa, sehingga akan dapat terwujud "barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya". Dan "barang siapa mengenal Tuhannya, ia akan menjadi 'bodoh'".
 
 
*Sumber: Heritage of Java

Falsafah Hidup Jawa

Dari beberapa falsafah Jawa yang bersliweran di sekeliling saya, salah satu yang paling mengena di hati adalah gegebengan yang diturunkan oleh RM Pandji Sosrokartono: "Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake". Kalau belum akrab dengan nama ini, tapi pasti akan jauh lebih familiar dengan nama RA Kartini. Yep, sang pewaris falsafah tak lain adalah kakanda dari penulis kumpulan surat Habis Gelap Terbitlah Terang, tokoh emansipasi wanita Indonesia.
Sekarang, mari kita uraikan satu-persatu falsafah hidup tersebut.
Sugih tanpa bandha. Bisa juga diartikan dari kalimat lengkapnya 'rumangsa sugih senajan tanpa bandha', yang dapat dimaknai sebagai kaya sekalipun tak memiliki harta. Meski tak memiliki harta materiil, tapi tetap bahagia dengan apa yang dimiliki. Melalui falsafah ini, kita diharapkan bisa menjadi pribadi yang merasa 'kaya'. Menjadi manusia yang bangga atas dirinya sendiri, tidak merasa rendah diri sekaligus menerima kelebihan dan kekurangan dirinya. Manusia tidak hanya terpusat pada nilai materi atau keduniawian, tapi juga memiliki jiwa alias sukma. Manusia tak hanya dinilai dari kekayaan materi melainkan juga dari kekayaan jiwa dan hatinya.  Orang yang kaya hati bisa ditandai dari ketentraman jiwa dan pikirannya, sabar, ikhlas, tenang dalam menghadapi segala persoalan, juga senantiasa bersyukur kepada Tuhan.
Digdaya tanpa aji. Biasanya, digdaya dikaitkan dengan kehebatan tubuh; tahan pukul, tahan dari serangan senjata tajam, dll. Dengan kata lain, manusia dikatakan digdaya bila memiliki kesaktian atau memegang jimat. Digdaya yang dimaksud dalam falfasah yang dirumuskan RM Pandji Sosrokartono adalah perkasa sekalipun tidak memiliki jimat/aji-aji, tapi berkat keluwesan sikap. Jika kita memiliki sifat yang baik, tata krama yang unggul, juga mampu beradaptasi dengan lingkungan melalui perilaku 'dimana langit dijunjung di situ bumi dipijak' maka kita dapat meminimalisir musuh atau bahkan tidak memiliki musuh sama sekali. (walaupun nyatanya akan sangat mustahil untuk memiliki 0 musuh, sebaik apapun sifat kita). Semakin sedikit musuh, maka niscaya kita akan terhindar dari segala gangguan maupun serangan. Hidup pun akan menjadi lebih tenang dan nyaman. Hasilnya? Tanpa jimat pun kita akan perkasa dan luar biasa.
Nglurug tanpa bala. Dikatakan demikian karena pada dasarnya, manusia harus berperang setiap saat tanpa bisa membawa pasukan. Perang yang dimaksud adalah perang melawan 'diri sendiri' alias hawa nafsu, baik berupa nafsu amarah, nafsu ketamakan, kerakusan, ambisi, birahi, dll. Musuh paling berbahaya adalah diri sendiri. Pujangga terkenal Ki Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha mewariskan Tembang Sinom mengenai hawa nafsu, yakni: "Amenangi zaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan ora tahan, yen tan melu anglakoni boya keduman melik, kaliren wekasanipun, ndilalah karsa Allah, begja begjaning kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada". Terjemahan bebasnya adalah: "Memasuki jaman edan, merasa kesulitan cara menghadapinya. Mau ikut edan tidak tahan, kalau dikatakan tidak ikut edan kok kenyataannya ikut melakukan karena ada rasa keinginan, akhirnya kelaparan. Atas kehendak Allah, beruntungnya orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang selalu ingat dan waspada". Tembang ini ditujukan untuk para anak cucu agar tidak serta merta menuruti hawa nafsu yang kerap menggoda, tapi harus bertekad kuat mengalahkannya. Jika kita sudah dapat melawan hawa nafsu dan bisa menempatkannya pada posisi dan porsi yang tepat, maka dapat dikatakan bahwa kita telah menyerang meski tanpa membawa bala tentara dan menang perang. 
Menang tanpa ngasorake. Poin ini bisa pula dihayati dari Tata Krama Jawa, yaitu kita harus taat mengamalkan Nandhing Sarira, Ngukur Sarira, Tepa Sarira, Mawas Diri, dan Mulat Sarira. Bila kita sudah menyatu dengan tata krama tersebut, maka kita akan menjadi pemenang tanpa harus mengalahkan musuh karena kita sudah menjadi pribadi yang 'sareh', senantiasa 'eling', 'waspada', benar-benar mengenal diri sendiri, senantiasa mengutamakan kebaikan, menjunjung tinggi 'laku utama', dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan yang Maha Kuasa.
Itulah, Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Kaya sekalipun tidak mempunyai harta, perkasa sekalipun tidak mempunyai aji-aji, menyerbu sekalipun tidak punya bala tentara, menang pun tanpa mengalahkan.
 
*Dari berbagai sumber.