Showing posts with label rindu. Show all posts
Showing posts with label rindu. Show all posts

Tuesday, 29 November 2011

rindu jadi kesumat!

demi tuhan, aku tak tahan!
aku rindu.
aku ingin lekas bertemu.
demi tuhan!
benar-benar sudah tak tahan.
jika saja esok sudah jumat,
agar 
rindu 
tak 
jadi 
kesumat!



Friday, 28 January 2011

Rindu (Tak) Mati Hari Ini


Aku tidur lagi. Semoga nanti masih bisa bermimpi; biar rindu ini tidak mati dibunuh janji. 

Pesan terkirim. Pukul setengah 3 pagi. Setengah jam setelahnya, ponsel berdering. Nyaring. Nama papachan berkelip-kelip genit di layar. Hati menang pertaruhan. Sang Emosi cuma bisa gigit jari. Akhirnya tangan pegang kendali. Dering ponsel terhenti.

“Ya, halo, mas? Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam. Halo, ay. Jangan marah donk…”
“Yang marah siapa?
“Maaf yaa bebeb. Udah donk jangan marah yaaa. Jangan ngambek yaaa. Udahan kekinya ya ay…”

Saya menghela nafas. Dia diam.Cuma sejenak. Jenak berikutnya sudah mengalir alasan. Ini-itu penyebab rindu terpasung janji. Saya diam, juga hanya sejenak. Berjenak-jenak kemudian diisi kicauan pendek dari mulut saya.

Lagi, dia merajuk.

“Udah ya ay ngambeknya. Maaf. Janji gak lagi-lagi.”

Saya masih diam.

“Udahan ya ngambeknya ayang.”
“Mas janjinya mau telpon. Aku udah tidur lama tapi mas gak telpon-telpon.”
“Maaf ya, tadi aku masih ribet sama laporan. Ini juga aku kebut ngerjainnya, baru kelar nih ay. Ngomong-ngomong tadi sms kamu ngerajuknya lucu deh ay. Ada ngambeknya, ada marahnya, ada kekinya, tapi juga ada kangennya.”
“Aku kan kangen sama mas.”
“Iya aku tau koq ay. Aku juga kangen sama kamu. Udah ya, jangan ngambek lagi.”

Ah, dia selalu tahu tentang rindu. Menggebu. Dia juga paham kalimat sakti paling mujarab: “aku juga kangen sama kamu”. Rayuan yang berhasil. Selalu.

Tapi rindu tak jadi mati. Karena belati janji tak sepenuhnya menikam hati. Rindu hanya mati suri. Tak perlu bermimpi, begitu ucap mentari.
Selamat pagi, beibi.

Tuesday, 25 January 2011

Lagi, Masih Tentang Rindu

Perkenalkan, namaku Rindu. Aku bersemayam dalam relung Hati pemilik blog ini. Aku meminjam raganya untuk mengungkapkan apa yang kurasa. Ya, tentang apa yang dirasa si Rindu ini. Cih, jangan bilang kau kaget mengetahui bahwa si Rindu ini pun bisa memiliki rasa. Jangan heran. Aku sama seperti kalian. Punya rasa, juga punya rindu. Meski tak punya raga yang fana tapi aku punya jiwa yang bergelora. Rasanya sudah cukup perkenalannya. Lebih baik segera kuselesaikan ungkapan rasa ini, sebelum si pemilik raga tersadar dari mimpi.

Duh, apa tadi yang ingin kusampaikan di sini? Ah ya, aku ingin mengeluarkan unek-unekku tentang rasa dan rindu dalam diriku. Maaf, aku masih harus beradaptasi untuk mengendalikan raga ini.

Nah, mari kembali pada hal yang ingin aku sampaikan karena sejujurnya, aku sangat ingin protes!

Aku ingin protes tentang degup kencang yang kerap melesakkan diriku hingga ke tulang-tulang rusuk. Tentang asinnya air yang kadang membanjiri rumahku. Juga tentang kesepian yang selalu hadir, layaknya iklan rexona: kapan pun, dimana pun.

Kau bayangkan saja. Aku ini laksana balon udara; bisa menggembung, tapi juga bisa menciut. Saat si pemilik raga ini sedang merasakan rindu, maka aku akan melesat membesar. Tapi ketika ia telah memuaskan rindunya, aku akan kembali menciut ke bentuk asalku. Sebesar apapun kemampuanku untuk membesar, tapi aku tetap tak bisa lebih besar dari ukuran rumahku, yakni si Hati. Dan aku yakin kau pasti jauh lebih tahu ukuran pasti dari si Hati. Aku pernah diberitahu Tuan Mata, tentunya dari deretan huruf yang dibacanya, ukuran Hati hanya sebesar kepalan tangan si pemilik raganya. Sekarang coba kau kepalkan tanganmu. Nah, itulah ukuran Hatimu. 

Apa? Kau bilang ukurannya kecil? Ya! Memang! Tapi bagiku, ukuran si Hati sangat-sangat kecil, apalagi jika dibandingkan dengan kewajibanku untuk menggembung mengikuti rindu yang dirasa si pemilik raga, yang SELALU melebihi ukuran si Hati. Bayangkan rasanya kalau kau harus menggunakan sepatu yang ukurannya jauh lebih kecil dari ukuran kakimu. Atau memakai pakaian berukuran S, padahal ukuranmu adalah XL. Belum lagi rumahku kerap kebanjiran dengan air asin. Tuan Mata kerap minta maaf padaku. Tapi kami sama-sama paham bahwa itu bukan salahnya. Mungkin juga bukan salah siapa-siapa. Rasa asin yang kucecap kerap mengingatkanku pada rasa sepi yang sering menemaniku. Lalu, apakah sekarang kau sudah sedikit lebih mengerti bagaimana rasanya jadi aku?

Aku tak sedang mengeluh. Tolong pahami itu. Aku hanya ingin jadi lebih lega. Tak lagi terhimpit oleh segala rasa rindu yang melesat ke segala arah. Aku pun tak bisa menyalahkan si pemilik raga. Toh, sebenarnya dia pun tak benar-benar bisa mengontrol rindu yang menyapanya. Rindu datang dan pergi tanpa diminta. Rindu berkehendak atas dirinya sendiri. Ia tak pernah mengizinkan ada hal lain yang mengaturnya, bahkan aku sekalipun.

Sekali waktu, aku pernah tergiur untuk mengetahui apa yang selalu dirindu oleh si pemilik raga ini. Aku memohon pada Tuan Mata untuk ikut mengintip dari ruangannya. Awalnya, Tuan Mata tak mengizinkanku. Katanya, ia takut aku akan merasakan hal serupa yang dirasa oleh pemilik kami. Kubilang, aku akan menanggung segala resikonya. Dan akhirnya Tuan Mata mau berbagi sedikit ruang untukku. Dan saat itulah, aku melihat penyebab rindu yang kerap melanda si pemilik raga. Kuakui, aku menjadi hilang kendali seketika. Tak kudengar lagi celotehan Tuan Mata yang mengomel panjang-pendek, berbicara tentang nasehatnya yang kuabaikan.

Berhari-hari setelahnya, aku laksana menyatu dengan pemilikku. Aku adalah si pemilik raga. Dan si pemilik raga adalah aku. Hingga akhirnya aku merasa diriku makin membesar. Ukurannya menjadi berlipat daripada sebelumnya. Kupikir, mungkin karena si pemilik raga diterpa rindu, dan aku, si Rindu pun merasakan hal yang sama. Kami merindu dendam. Dendam untuk melampiaskan rindu yang makin membuncah dari hari ke hari.

Dan kini, aku harus membuat diriku lebih lega. Karena dalam 2x30 hari ke depan aku harus melipatgandakan ukuranku. Mungkin lebih lebar daripada cangkangku. Ups, rasanya si pemilik raga mulai sadar. Sampai jumpa. Oh ya, kalau kau bertemu dengan Tuan Pembuat Rindu, tolong sampaikan salam rindu dariku juga dari pemilikku untuknya. Berikan kecup rindu kami untuknya, ya.  Ah, si pemilik raga makin mendekati kesadarannya. Aku harus menuntaskan hal ini. Izinkan aku untuk menyampaikan harapanku yang paling mutakhir ini:

Semoga kelak rindu sublim dalam narasi dan mimpi, lalu kembali mewujud dalam laku yang tak perlu ditirakatkan.



cirebon

Sunday, 23 January 2011

You're So Close, Yet So Far



Day 2, and still counting. :'(


*credit: ZeroComrade by deviantART





Thursday, 2 December 2010

Pupuh Tagyana

PERTAMA. Ini kali pertama saya bersolo karir menempuh jarak Jatinangor-Jakarta, demi memenuhi permintaan seorang pria dengan lesung di pipi kanan. Pria yang saya sebut papachan—beberapa yang lain menyamakannya dengan pacar. Dan ternyata, mitos tentang kemacetan di ibukota tak sebatas isapan jempol belaka. Empat jam lebih dipanggang dalam bus (yang katanya) ber-AC. Terhadang macet berkali-kali. Tak berkutik, hanya bisa memeras keringat karena mesin AC mogok. Mungkin protes gara-gara kita—manusia—masih saja betah mencungkil ozon di atas sana. Ah lupakan perkara macet! Toh pepatah bilang, Jakarta tanpa macet ibarat sup lodeh tanpa santan. Malam pertama kedatangan saya disambut senyumnya, yang dipaksakan, untuk menghalau dinginnya air hujan. Rupanya sang papachan bergerimis ria. Dan saya hanya mampu mencium tangannya. Lalu mengukir sebentuk senyum sambil mengusap pipi gembilnya. Semoga saja luapan rasa terimakasih saya telah tersalurkan lewat pelukan ringan pada perut buncitnya di sepanjang perjalanan pertama saya naik motor di Jakarta *norak mode: ON.
-----------------------------------------------
GERAH. Tak cuma udara, tapi juga karena janji. Janji seekor kucing peranakan Cina yang ingin bertandang. Entah karena ia ingin mengeong atau justru mencakar. Oh ya, kucing ini kucing gaul. Hobinya menarik pelatuk senjata api. Ini pertama kalinya saya melihat kucing keturunan Cina yang senang tembak-tembakan. Tapi saya dengar kali ini ia mengidam batu, tepatnya melempar batu. Dan siang ini, jelaslah bahwa tak akan ada anak yang lahir dengan eces di sudut bibir. Dan di bawah dipan di lantai dua, tergeletak batu mungil yang duduk manis di sana. Segera saja, si kucing gaul ribut mengeong dan melesat naik kursi bulat berwarna tembaga di balkon. Meong. Meong. Meong. Mungkin masih menyimpan kesumat. Semalam ia hampir diangkut punggawa yang patroli. Subversif, katanya. Naaa, itulah akibatnya kalau nekat mendekati markas pusat di penghujung malam. Perlahan tapi pasti, batang rokok mulai terbakar di mulutnya, sambil sesekali rambut poni miring-selamat datang nya dirapihkan. Sampai kemudian langit sore menjelang, lengkap dengan aksesoris awan gelap. Dan si kucing bergelung nyaman di bawah kaki saya, berkutat dengan bantal-guling serta (lagi-lagi) poni-miring-selamat datang nya. Sesekali matanya yang hanya segaris melebar disertai erangan a la kucing garong. Maklum, kotak elektronik di hadapannya menyuguhkan ikan betina nan sekal dan rupawan. Dan kali ini ini, sang papachan seiya-sekata (eh, semeong maksudnya) dengan si kucing.
------------------------------------------------
MAMPET. Sudah hari kesekian, dan hidung kanan saya masih tetap setia dengan sensasi mampet yang ruar binasa. Tapi ini pagi pertama yang saya habiskan dengan menghabiskan sarapan racikan papachan. Wow! Pagi ini saya punya koki pribadi. Ahaha. Sarapannya sederhana. Tapi mengingat siapa yang sudah repot-repot bermain di dapur demi sebuah sarapan yang biasa-biasa saja, justru membuatnya tak lagi sesederhana kelihatannya. Apalagi, kita dibesarkan dalam sebuah budaya yang masih menganggap dapur bukan sebagai tempat alami bagi makhluk berjakun. Sarapan selesai, dan kami beranjak ke tempat nenek. Empat hari kemudian, baru diceritakan olehnya kalau saya-lah perempuannya yang pertama dikenalkan pada nenek. Tambahan lagi, pertama dikenalkan sebagai orang yang diambilnya dari jalan. Wahaha. Cara memperkenalkan yang unik. Sangat khas a la papachan.
------------------------------------------------
HOAX. Ah, dasar SuPervert! Padahal sudah berbulan-bulan chatting, lengkap dengan segala curhatan dan ejekan, tapi masih saja dia tega menyebut saya tak benar-benar nyata. Wahaha. Komedimu menyebalkan sekali, Ki Sanak. Apalagi kemudian dia mengucap hal yang dulu juga pernah terlontar dari bibir si penyuka-gadis-super-muda. Mungkin lain kali, saya memang harus menyamarkan pipi gembil di setiap foto. Ah ya, pria jangkung yang terdengar manis dengan logat cadelnya jangan sampai terlewat. Dia: si pemberi kultum tentang Chaerudim, juga tentang dua lainnya yang nomor seri-nya sudah terbang dari ingatan sejak saya melewati pintu kaca. Hehehe. Hmm, ingatan saya tentang angka memang tak pernah jadi brilian. Tapi sungguh, lekuk kelima action figure miliknya masih saja terbayang. Menggoda. Godaan yang bagi saya cukup sebanding dengan hasrat untuk menggaruk luka di betis kiri. Luka yang ajaib. Muncul tiba-tiba setelah bangun tidur, seperti jaelangkung. Saat mengadukan segaris luka, lelaki saya hanya geleng-geleng kepala dan mencari-cari betadine di kotak obat. Sejurus kemudian, tangannya menyodorkan botol mungil berwarna kuning. Penuh rasa terima kasih, saya buka tutup botol itu sambil bersiap menotolkan isi botol ke luka. Sampai kemudian dia merebut botol kuning itu seraya tertawa terbahak. Tawanya belum berhenti saat dia mengucap, “ngapain luka baret gitu kamu kasih lem fox”. Sampai kemudian dia menunjukkan botol kuning yang tadi saya pegang. LEM FOX. Begitu tulisannya. Ahahaha. Dasar jahil bin usil! Ternyata sore itu saya sukses kena jebakan betmen a la papachan.
------------------------------------------------
BRRR. Hari ini mendung. Bukan hari yang mujarab untuk menyantap es krim atau sekedar jalan-jalan keliling kompleks. Tapi papachan justru ingin mengukur jalan sambil menjilat-jilat es krim Walls. Jadilah. Sore ini kami jalan-jalan secara harfiah. Sesekali tangannya diam-diam menunjuk ke obyek yang diceritakan. Tempat main bola juga kali tempat bersemayamnya para algojo saat hari pembantaian para kambing. Puas menunjuk ini-itu di luar, tangannya sekarang mulai memilah keping dvd mana yang harus saya tonton. 'The Sorcerer’s Apprentice'. Sudah ia tonton, tapi saya belum. Aha, rupanya kali ini ia mengalah. Terharu. Jadi ingat bagaimana kemarin malam ia memeluk saya erat. Yes, dear, I love you too.
------------------------------------------------
ALARM. Satu, dua, ah tidak, lima bunyi bersahutan. Tak ada yang bangun karena memang sudah bangun beberapa menit sebelum alarm berbunyi. Kali ini, kami menang melawan alarm! Oke, apologia. Papachan yang lebih dulu bangun. Hampir pukul tiga dini hari. Sampai kemudian kami menjalankan ritual dini hari. Lalu? Tidur lagi! Hahaha. Siangnya saya sibuk menyilangkan jari telunjuk dan jari tengah. Dari balik meja teller, si tante tersenyum meneropong kartu tanda pengenal saya. Ah, mestinya cukup berjabat tangan saja kalau mau kenalan. Jadi tak perlu ada masa kadaluwarsa. Kartu pengenal saya sudah hampir dua bulan habis masa aktif, mungkin sudah masuk masa tenggang. Dua jam selanjutnya sibuk memanjakan kaki. Demi membuatnya lebih kokoh: mengitari empat lantai sebuah mall. Alasannya satu, ingin memuaskan dahaga papachan menonton 'Harry Potter 7'. Belum terlambat, tapi paling tidak ngidamnya kesampaian. Tak akan ada bocah ileran.
------------------------------------------------

GANJIL. Tuhan menyukai bilangan ganjil. Langit berlapis tujuh. Bahkan Ia menyelesaikan dunia di hari ketujuh. Mungkin cuma soal kepemilikan suami atau istri saja dimana angka tujuh dilarang. Eh tapi kalau soal selingkuhan, boleh tidak ya? Ah, lupakan perkara selingkuhan. Inilah hari ketujuh. Maaf, tak akan kau temukan kata perpisahan di sini. Goodbye? No. Welcome? Yes! Selamat datang Desember. Selamat datang, rindu.
jakarta. duaenam november-dua desember duaribusepuluh.