Showing posts with label Cirebon. Show all posts
Showing posts with label Cirebon. Show all posts

Tuesday, 25 January 2011

Banaspati Kalah Pamor

Aku adalah seorang gadis yang dilahirkan di sebuah kota pelabuhan kecil. Aku lahir, besar, dan tinggal di sini. Tempat di mana segala hal klenik dirawat dengan apik. Lihatlah tiga keraton yang masih berdiri kokoh, lengkap dengan segala hierarkinya. Lihat pula gunung di ujung sana. Gunung yang katanya menyimpan selaksa misteri, yang kadang bisa terdengar auman harimau putih penunggu Pasundan. Lalu bertandanglah ke kolam pemandian di kaki gunungnya. Segarkan dirimu dengan air bulan, bermainlah dengan sekumpulan ikan yang ada di kolam. Tapi jangan harap bisa menyentuh ikan-ikan yang berenang bebas, kecuali, jika mereka mengijinkanmu membelai sisiknya yang licin.

Jangan pula menetes air liurmu karena melihat ikan besar di kolam sebelahnya. Percayalah, kau tak akan mau menggelepar keesokan harinya karena memakan daging ikan bertuah tersebut. Dahulu kala pernah ada pria keturunan Jepang yang tergiur. Dibawanya ikan tersebut pulang, dipotong, lalu dimasaknya dengan beragam rempah-rempah. Harumnya menyebar ke segala penjuru arah. Keesokan harinya penduduk gempar. Pria keturunan Jepang tersebut sudah tergeletak di lantai. Mungkin Izroil mencabut nyawanya semalam. Tapi, ikan yang kemarin dipanggulnya pulang telah berenang gemulai di dalam kolam. Itulah akibatnya kalau melanggar pamali, begitu bisik-bisik orang saat menceritakan kisahnya ke anak-cucu mereka.

Tapi bukan itu yang hendak ku ceritakan padamu. Aku ingin bercerita tentang aku.

Aku gadis yang besar di tempat dimana segala gonderuwo, pocong, buto ijo, wewe gombel, dan hantu asor lainnya bersemayam dalam hati penduduknya. Penduduk percaya, malam Juma’t, terutama Jum’at Kliwon adalah malam keramat. Malam dimana segala kekuatan gaib akan menampakkan wujudnya. Malam keramat yang mungkin hanya bisa disaingi oleh malam 1 Suro. Malam dimana angin akan berhenti berhembus dan segala perkakas keraton dikeluarkan untuk disucikan. Lalu angin akan menebarkan harum bunga kamboja, mawar, melati keraton, juga sedap malam. Ratusan orang bersemadi, menyatukan diri dengan alam. Air doa akan dibagikan. Puja dan puji pun akan dihaturkan kepada Gusti nan Agung, sembari memohon keselamatan dan kesejahteraan. Lalu di tempat-tempat tertentu, tampah berisi kembang 7 rupa, kopi pahit, rokok kretek, dan buah-buahan disuguhkan.

Tapi malam ini bukan malam Jum’at Kliwon, bukan pula malam 1 Suro. Juga bukan malam Selasa Legi dimana makhluk-mahkluk pesugihan akan mengambil wadalnya. Ini Selasa malam. Tak ada yang istimewa di malam ini, setidaknya itulah yang aku percayai. Suatu keanehan jika kemudian di malam ini aku merasakan getar-getar mistis di sepanjang sumsum tulang belakang, yang kemudian meremangkan tengkuk. Belum lagi burung perkutut yang tergantung di depan jendela tiba-tiba merobek keheningan tengah malam. Hanya burung yang tergantung di luar kamarku, tapi tidak dengan burung lain yang berada di samping rumah. Dan ini bukan hal yang biasa terjadi.

Jantungku refleks berdegup cepat. Aku yang sedari sore muram menjadi makin temaram. Moodku memang sedang tak baik. Aku sedang murung tak beralasan. Tapi inilah perempuan, punya saat-saat menjadi makhluk paling murung saat si bulan datang. Kukutuki burung perkutut yang mengagetkan gara-gara ocehannya di tengah malam. Dari kejauhan lamat-lamat kudengar gonggongan anjing. Entah anjing liar atau berpemilik, aku tak mau ambil pusing. Tapi gonggongannya itulah yang membuatku berdesir. Ingat, aku tinggal di tempat dimana kepercayaan mistis telah begitu merasuk dalam kalbu. Dimana setiap bocah dininabobokan dengan dongeng tentang wewe gombel yang memakan anak bandel juga anak yang enggan belajar dan tidur cepat. Dimana setiap bocah akrab dengan ancaman tentang Buto Kala yang kerap menculik anak-anak jika mereka masih bermain saat lembayung turun di ufuk barat. Gonggongan si anjing mengingatkanku bahwa binatang lebih mampu melihat sosok makhluk gaib. Gonggongannya mungkin dari jauh, tapi bagaimana dengan celotehan burung perkutut di depan jendela kamarku?

Kueratkan selimut. Bukan,bukan karena takut akan imajinasi tentang sesosok makhluk tinggi besar yang tengah mengintipku dari balik lubang angin. Tapi berkat hawa dingin yang menyelusup ke pori-pori lalu berdiam di sendi-sendi tulang. Aku adalah gadis yang lahir dengan membawa segala klenik dalam aliran darahku. Samar-samar kulihat dalam anganku, sepenggal kepala yang menyala-nyala dengan rambut-rambut api, melayang di depan jendela kamar. Matanya melotot, dengan taring-taring besar yang menyeruak dari dalam mulut. Lidahnya yang semerah darah menjuntai panjang. Di pulau Dewata nun jauh, kepala itu disebut Banaspati. Ia melayang-layang dari tengah hutan ke rumah yang ia inginkan, untuk memakan darah haid. Dan sialnya, ini malam kedua dari masa keperempuananku. Tapi kupikir, bukankah Banaspati tidak menyeberang laut untuk mencari darah haid? Ia hanya lestari di pulau sana, bukan di sini. Lalu buat apa ia berdiam di depan kamar?

Lalu tiba-tiba aku membayangkan sosok lain yang menggantikan sang Banaspati. Sosok yang lebih kekinian. Tak lagi menyeramkan tapi tetap membuat jantung berhenti berdetak. Ia yang abadi dalam kisah dan tersimpan dalam relung hati remaja masa kini. Sekilas aku melihat deretan giginya yang putih dan tersusun rapi berkilau ditimpa cahaya rembulan. Ah, mungkin dengan kekuatan bulan-lah ia akan menghukum mereka yang tak percaya keberadaannya. Mungkin karena hanya di malam gelap ia mampu berkeliaran. Mungkin, karena ia memang tak memiliki tuah sakti laksana sang Banaspati.

Didera rasa penasaran kuhampiri daun jendela. Kusibak kain gorden untuk menangkap raut wajahnya. Tapi sayang, kelebat hitam keburu memisahkan. Tapi sebelum ia menjauh, masih bisa kupastikan gemerlap menakjubkan di kulitnya. Masih pula kudengar gemerisik angin yang berisik hendak menyampaikan sesuatu padaku. “Memet Kulen”. Rasanya itu yang kudengar darinya. Terdengar dingin dan mematikan namun tetap mempesona. Entah mengapa, aku telah merasa jatuh cinta padanya. Di kejauhan, kulihat sang Banaspati mulai menjauh. Rona api di rambutnya perlahan memudar. Sang Banaspati sudah kalah judi, dan ia harus kembali ke lembaran-lembaran kisah tanpa bisa mewujud kembali. Di tanah keramat ini, pamornya telah mati. Sang Banaspati runtuh digeser keping DVD.



tanah sang wali

Thursday, 29 April 2010

Vote For Dokter Pria!

dokter cowo, apalagi yg manis dan enak diliat ternyata jauh lebih enak daripada dokter cewe. walaupun si dokter cewe itu masuk kategori cewe yg manis juga, plus ramah. kenapa saya membuat kesimpulan ini? semuanya diawali dan diakhiri dari cerita saya medical check up di sebuah lab. klinik yg lumayan terkemuka di kota Cirebon ini.

jadi, ceritanya, hari ini akhirnya jadi juga saya medical check-up ke Lab. Klinik Pra**ta. setelah kemaren gagal, gara-gara ngiler sama si gembul. bayangin aja, dia telpon subuh-subuh, dan dengan senangnya makan ayam ma daun-daunan laksana seekor kambing, trus dikecap-kecap gitu. selamat loh sayang, kamu berhasil bikin saya ngiler dan langsung ngebatalin puasa hari itu. >,<

dan yaahh,, begitulah, setelah Lab. nya mengalami padam listrik beberapa menit, akhirnya saya dipanggil juga buat masuk ruang periksa. tahap pertama: cek darah dan urine.

"dari jam berapa puasanya? coba tolong digulung lengan bajunya ya.. trus tangannya dikepalkan."
"saya terakhir makan-minum tadi malem jam 11, dok. "


tanpa ba-bi-bu, si dokter megang siku kiri saya, trus dia taro di atas bantal kecil berwarna merah berbentuk hati. meraba-raba sebentar, dan, "cuss", sebatang jarum masuk ke nadi saya. setelah si dokter puas ngambil sample darah, dia nutup bekas suntik pake hansaplast. sayang, gak ada hansaplast yg motif kupu-kupu. --a

anyway, disuntik itu pedih ternyata rasanya. SIAPA SIH DULU YANG BILANG KALO DISUNTIK ITU RASANYA KAYA DIGIGIT SEMUT? SINI, BIAR NANTI SAYA GETOK KEPALANYA. >,<

"nah, abis ini kamu kasih sample urine, trus langsung ke bagian rontgen ya. kalo udah selesai, kamu makan, trus puasa lagi 2 jam. selama dua jam cuma boleh minum air putih ya. nanti tepat 2 jam harus udah duduk lagi disini, buat diambil lagi sample glukosa puasanya."

dan saya cuma bisa angguk-angguk sambil meringis megang hansaplast di tangan kiri.

1 jam 58 menit setelah selesai makan kemudian, sambil setengah berlari saya masuk ke ruangan yang sama. ehh, si dokter yang tadi cuma nengok ke arah saya, diam, dan berkata: "ada apa, mba?"

WHAT?!

padahal tadi dia yg nyuruh tepat 2 jam harus udah duduk di kursi yg itu. ternyata dokter juga manusia ya, buktinya masih gampang lupa-lupa ingat. ckckck.

nah,,kalo tadi si dokter cowo, kali ini giliran dokter cewe yg meraba-raba tangan kanan saya. prosesnya sama, tapi kali ini rasanya lebih perih. apa karena faktor yg ambil darah pertama itu dokter cowo yg manis ya? hihihi.
dan proses yg kedua ini punya ending yg sama. tangan kanan saya ditempeli hansaplast bundar, yg sayangnya tetap enggak bermotif kupu-kupu.

nahh,, sekarang, dua tangan saya dihiasi dengan hansaplast transparan bundar yg sangat tidak menarik dan menggairahkan. tapi eh tapi,, kenapa lama-lama si tangan kanan rasanya sakit ya? ternyataaa..setelah diteliti, diamati, dan diraba dengan seksama dan dalam waktu yg tidak singkat, si bekas suntiknya jadi bengkak. SH*T!!

padahal bekas suntik di tangan kiri, yg disuntik sama si dokter cowo itu sama sekali enggak bengkak. tapi kenapa yg di tangan kanan malah bengkak, dan pedih kalo saya menekuk tangan? arrghh.. ternyata memang lebih enak sama si dokter cowo daripada dokter cewe. >,<


cirebon.

Sunday, 15 February 2009

Kalau Wartawan Bohong

Kalau wartawan bohong, apa jadinya ya?

Ini kejadiannya Rabu (11/2) siang, tepatnya di sebuah gedung Asrama Haji Watubelah, Sumber, Kab. Cirebon.

Hari itu, saya, Mba Dewi, ma Mas Andi jalan-jalan ke gedung itu..
Ceritanya ada liputan,, ada peringatan Harlah Muslimat NU ke-63. Kedua wartawan lagi pada getting. Mba Dewi liat-liat kondisi, Mas Andi asyik jeprat-jepret pake camdig-nya. Saya sih nonton ajah... kan ceritanya lagi magang..hahaha

Karena harus wawancara, saya ma Mba Dewi ke ketua acara dan ketua Muslimat NU-nya. Mas Andi still take some photographs. Dan kami bertiga pun misah jadi dua kelompok.

Biar cepet ceritanya, jadi,, ceritanya saya ma Mba Dewi ngobrol ngalor-ngidul ma si Ibu. Udah ngerasa cukup (cukup gak ngerti maksudnya..hehehe), kami berdua pun pamit.

Mba Dewi (DW) : "Makasih, Bu. Kami mau pamit dulu. Kebetulan sudah ditungguin sama wartawan yang satunya lagi di parkiran."
Si Ibu (SI) : "Lho, makan dulu kita rame-rame."
Saya (SY) : "Makasih banget lho, Bu. Tapi kami mohon pamit, kasian wartawannya udah nungguin dari tadi."
SI : Gak papa. Itu temennya panggil aja ke sini. Pokoknya harus makan dulu. Kata orang-orang tua, asal sedikit tapi harus cobain smua makanannya dulu." (Nadanya Si Ibu udah mulai agak maksa nih)

Saya ma Mba Dewi cuma saling pandang. Secara gituh yaaahh, sebelum ke tempat itu udah isi perut duluan di Warung Pa Leman.

Biar aman, Mba Dewi ijin pamit sekali lagi, dengan embel-embel alasan: "Makasih banget, Bu. Tapi maaf banget, kami udah makan, dan sekarang ada liputan lagi ke DPRD. Jam 1."
(Sambil nunjukin jam tangannya, yang udah nunjukkin pukul 13.10)

Si Ibu keliatan kecewa tapi akhirnya merelakan kami pergi tanpa mencoba masakan yang sudah disiapkan. Dan saya ma Mba Dewi pun keluar ruangan, segera memakai sepatu. Mba Dewi selesai duluan dan menuju ruangan aula, saya masih di depan pintu berusaha menggunakan kaos kaki. Si ibu menunggu di depan pintu juga, bareng satu ibu lainnya. Dan tiba-tiba Si Ibu mengajukan pertanyaan yang bikin saya gelagapan buat jawabnya.

SI : "Emang ada acara apa gitu di DPRD?"
SY : "Aduh, acaranya kalo gak salah rapat komisi gitu, Bu. Kebetulan tadi liat jadwalnya cuma sepintas, soalnya langsung ditugasin buru-buru kesini."
SI : "Ohh, Komisi apa gitu emangnya?"
SY : (mengerutkan kening, bingung mau jawab apa. Secaraaa,, sebenernya gak tau itu di DPRD ada liputan apa, komisi apa, rapat apa) "Bentar Bu, diinget-inget dulu. Kalo gak salah sih, Komisi B sama Komisi C deh bu. Soalnya saya baru sih Bu, belum apal ruangannya yang mana aja." (Sumpah, ini gak tau kenapa bisa terinspirasi jawab gini, mungkin ngitung kancing dari baju Si Ibu kali yah.. ^_^v)
Si Ibu lainnya : "Loh Mba, Bu Aam (Si Ibu yang kami wawancarai) ini kan Komisi B juga Mba... Tapi ada di sini koq, Mba"

Mampusss... saya cuma bisa nyengir... sambil ngebatin, ini Mba Dewi balik buruan ke sini..
Hahahaha

Untungnya Si Ibu terlihat mikir...
SI : "Kalo Komisi B sih hari ini enggak ada agenda deh kayaknya"
SY : "Oh, gitu ya Bu? Waduh, jangan-jangan saya salah liat jadwal nih, Bu. Soalnya tadi buru-buru"
SI : "Tapi emang hari ini kalo gak salah emang ada kunjungan gitu Mba, Komisi C ma D kalo gak salah yah"
SY : "Mungkin itu kali ya, Bu.. Duh maaf yah, Bu.. Gak lengkap saya liatnya.. Mungkin yang saya liat komisi D, malah keliatnya B.. Gak apa-apa deh ya, Bu, ya... Kan deketan hurufnya, agak-agak mirip. Hehehe..."

Setelah tertawa dengan lelucon garing saya itu, Mba Dewi sang penyelamat datang.. Akhirnyaaaahhhh...

Di motor, setelah saya ceritain insiden Komisi itu ke Mba Dewi ma Mas Andi,,
sambil ketawa Mba Dewi bilang, "Eh, Win, itu ternyata yang saya liat jadwal rapat minggu depan deh kalo gak salah.. bukan yang hari ini .. hahahaha"

Duh, mudah-mudahan aja Si Ibu-nya gak nyadar yah...
Amieennn

Ahahahahaha

Monday, 9 February 2009

Kalo Kata Caleg: "Insya Allah Khilaf!"

“Merdeka! Merdeka! Merdeka!”

Puluhan tangan terkepal di udara. Sekitar 50 orang bersahutan meneriakkan kata tersebut. Puluhan lainnya berkerumun di depan Gedung Serba Guna LPM Kecapi, Kec. Harjamukti, Minggu (9/2) siang.

Begitulah suasana dialog antara para caleg dan masyarakat di Kel. Kecapi, Kec. Harjamukti. Suasananya sungguh hangat, padahal di luar, hujan sudah mengguyur jalanan Kota Cirebon sejak acara dimulai pukul 9 pagi.

“Negara kita belum merdeka, terutama secara ekonomi dan kebudayaan! Maka, kita harus menyebarkan semangat untuk meraih kemerdekaan itu. Merdeka!”, ujar R. Rohadi lantang.

Pria berjas merah itu tak sendirian, di sampingnya ada empat orang yang siap berdialog dengan warga. Mereka adalah para caleg DPRD Kota Cirebon, yakni R. Panji Amiarsa (Partai Demokrat), Karsono SH (Partai Hanura), H. Kusnadi Nuried (PBB), dan Drs. Junizar Wisnadjaja (PPRN). Rohadi sendiri adalah caleg dari PDI Perjuangan.

Sedari pagi, mereka sudah bersemangat menanggapi beragam pertanyaan masyarakat seputar masalah politik dan kerakyatan. Tak mau kalah, warga pun antusias mengajukan pertanyaan dan opini politik mereka mengenai banyak hal, seperti pemberdayaan ekonomi kerakyatan serta rangkap jabatan bagi caleg. Misalnya Johanes. Ia menaruh perhatian pada konsep suara terbanyak bagi caleg yang disahkan Mahkamah Konstitusi (MK). Para caleg pun menanggapinya dengan jawaban yang berbeda-beda.


Money Politics
Rohadi menolak keras jika sistem suara terbanyak ini dikatakan bertentangan dengan hukum, karena menurutnya putusan ini sah melalui putusan judisial. Bertentangan, Karsono justru menganggap sistem ini mampu memicu terjadinya praktek money politics.

“Dengan sistem suara terbanyak, maka otomatis tujuannya untuk merangkul pemilih sebanyak mungkin. Cara termudahnya ya itu, lewat money politics,” jelas Karsono.

Ini pun menjadi bukti bahwa dalam urusan demokrasi pun, kita belum merdeka karena masih diperbudak uang. Kemungkinan lain, tambahnya, sistem ini berpotensi sebagai deparpolitisasi. Artinya, dikhawatirkan dapat melemahkan posisi partai politik (parpol).

“Parpol lambat laun berubah menjadi kendaraan bagi si caleg, yang mudah disewa. Dengan menggandeng parpol, caleg akan lebih mudah menghimpun suara. Parpol hanya akan menjadi alat. Ini kan sama aja seperti merentalkan parpol,” tegasnya.

Caleg lainnya, Panji, melihat fenomena suara terbanyak sebanyai sarana koreksi dan review bagi caleg. Menurutnya, konsep suara terbanyak bisa dimanfaatkan untuk mengukur sejauh mana kinerja maupun populeritas caleg di mata masyarakat.

Terkait masalah money politics, Rohadi memberikan sarannya. Dengan berseloroh, ia menyarankan masyarakat untuk menerima uang yang diberikan caleg. Namun ia menegaskan untuk jangan memilih caleg tersebut.

“Ambil uangnya, tapi jangan pilih orangnya. Itu untuk memberinya pelajaran agar kapok main money politics!,” ucapnya berapi-api.


Harus Janji Selalu Jujur
Di akhir sesi dialog, salah satu warga, Nurhasan, memberikan sebuah pertanyaan yang sontak membuat kelima caleg tersenyum.

“Sanggupkan para caleg untuk tidak berbohong?” tanyanya singkat.

Seraya tersenyum, Kusnadi menjawabnya secara diplomatis layaknya politikus sejati.

“Insya Allah tidak akan bohong. Kalaupun terpaksa, mudah-mudahan tidak merugikan masyarakat,” jawabnya, yang segera disambut riuh tepuk tangan warga.

Caleg lainnya pun tak jauh berbeda. Semuanya berjanji untuk tak berbohong, dengan prinsip yang tak jauh berbeda: terpaksa berbohong jika untuk kebenaran asal tak merugikan rakyat.

Kejujuran diakui sebagai mata uang yang paling laris di dunia. Ini pulalah yang dianggap Nurhasan harus dimiliki para caleg sebagai mentalitas dasar untuk mengabdi kepada rakyat. Tapi, sebagai manusia, tentunya kita pun kadang masih sulit menghindari kesalahan. Seperti Junizar.

“Maunya sih enggak akan bohong. Tapi kan manusia, Insya Allah khilaf.”

Tak butuh waktu lama, gelak tawa pun langsung membahana mengisi seisi gedung. Junizar pun buru-buru meralat perkataannya. Ah, namanya juga manusia, masih bisa khilaf. Bukan begitu?

Friday, 6 February 2009

Gemes Sama Temen

Ga, nih cerita yang tadi dijanjiin nih Ga
kejadiannya belom lama, Ga, Rabu (4/2).

Ceritanya, hari itu wny ma Nana pisah liputan karena sorenya wny rencana mu pulang, jadi mu siap-siap.. Ambil baju ke rumah satunya lagi dan beres-beres tas.

Nana bilang mau ngetik tulisan di rumah sekalian makan..
Deket-deket magrib dia baru dateng ke kantor buat transfer tulisan
(btw, kau sudah diceritain ma Nana kan, kalo di kantor pake MS-DOS, tanpa mouse dan apapun, selain monitor, keyboard, ma CPU? T___T)
jadi kalo transfer jadi mesti pake laptop, trus copy lewat LAN..

begitu dicolokin, tu flasdisk ternyata bervirus, dan otomatis, semua file yang bervirus langsung keapus...
termasuk file tulisan dia

dia bingung, wny juga...


dan terjadilah percakapan ini:


W: Na, filenya kena virus.. Keapus otomatis sama anti virusnya.. Kompi rumah berarti ada virusnya tuh...

N: Iya win, emang itu ada virusnya banyak.. trus gimana nih win?
W: Ya ampun sayaaangg,,, kalo tau ada virusnya kenapa gak ngetik di sini aja tadi? (pake ekspresi gemes pengen nyubit pipi. lol.). Ya udah deh, mending kamu ngetik lagi deh sekarang. Masih inget kan?
N: Duh, males tapi...gimana yah? Kalo gitu, Na pulang aja lagi ke rumah, ambil filenya lagi dari komputer, tar dicoba ditranfer lagi. Gimana win, kamu masi lama kan disini?
W: iyah, masi lama. Tapi kan Na, ini virusnya dari komputer kamu, kalo ngambil lagi ditransfer lagi, ya kaya gini lagi tar... duh, itu kompi pasang antivirus deh, dibersihin dulu buat besok-besok yah... Udah deh, ngetik lagi di sini aja
N: ya udah win, kalo gituh Na kirim lewat email aja gimana, tar kirim ke email kamu kalo kamu masih lama mah. Gimana?
W: ya udah,, *mikirnya: Nana bakal pulang, ngetik ulang di rental deket rumah--mengingat rental di Cirebon jarang ada antivirusnya--dy ubah format ke notepad yang lebih tahan virus trus kirim filenya lewat email* kalo udah kirim, langsung sms yah, biar bisa langsung dibuka
N: lha, ngapain sms, kirimnya juga dari warnet sebelah kantor koq, Win.
W: Nana, sayang, bageur, sholehah, ai kamu kumaha mu ngirim lewat imel dari warnet sebelah? kan file di flasdisknya uda keapus td ama antivirusnyaaahhh. kalo mau ngetik ulang mah disini aja atuh neng.. *mulai sangat gemassssss*
N: kan bisa win, buka disana, trus formatnya diubah, trus dikirim lagi?
W: iya na, bisa, tapi kalo filenya emang masi ada di flashdisknyah... tapi kan ini uda keapus-pus pussss *sudah ingin menangis karna gemasss*
N: oh, gitu ya, Win? Ya udah deh, Na coba aja dulu yah... *mulai gak nyambung...*

jam 18.50 WIB

Nana belom juga kirim kabar, email juga belom masuk... pas wny telp..

W: Na gimana? koq gak ada kabar? gimana jadi?

N: Na di rumah ni Win, gak bisa-bisa yah, file yang di komputernya dikirim lewat email. menolak mulu, gara-gara ada virusnya pas mau dikirim lewat warnet deket sini
W: ya iya atuh Na, kan udah dibilangin tadi.. satu-satunya cara ketik ulang dis ini ato di warnetnya sekalian. Ya udah, sekarang mah susah da.. berita mulai diambilin redaktur katanya jam 7. sekarang jam berapa coba na?
N: jam berapa yah? jam 7 kurang 10, Win. ya udah kalo gitu, Na sekarang berangkat ke kantor buat ngetik deh yah.. tungguin ya, wini belom mau pulang kan?
W: na, 10 menit lagih sayang... kantor ma rumah kan gak sebelahan ihh.. belom ngetiknya.. simpen buat besok aja beritanya... *ps: lokasi rumah Nana-kantor sekitar 15 menit kalo naek angkot *
N: kalo buat besok tar gak fresh lagi donk, Win..
W: kan bisa diupdate.. langsung kamu kembangin beritanya, ubah angle-nya ato tambah komentarnya siapa
N: ih, tar kan tanggal keterangan omongan narasumbernya kan hari ini, uda basi donk, Win...
W: duh, Na, kan besok yg ditulis keterangan tanggalnya ya cuma komentar update-an nya aja... komentar yg hari ini mah gak perlu ditulis waktunya. gituh lohh.. *posisi tangan kanan memegang hp, tangan kiri reflek memijat agak bertenaga (kalo bukan dibilang meremas.hyahaha) bahu seorang wartawan. lol*

setelah beberapa menit pembicaraan yang menanyakan hal yg itu-itu juga berakhir...


N: ya udah, Win,, kalo gitu, besok Na wawancara ulang lagi narasumbernya, trus langsung ketik di kantor, trus langsung caw ke Nangor aja kali yah?

W: Nah, itu Na.. Itu,, gituh aja, pinterr... *menangis bahagia*
N: ya udah deh win, makasih yah... kamu ati-ati yah berangkat ke Nangornya
W: iyah Na, sama-sama.. besok kalo ada apa-apa lagi, kamu sms aja ke wny yah Na

setelah memastikan jawaban "iyah" pembicaraan pun selesai...


handphone ditaro di meja, bersamaan dengan derai tawa seorang wartawan....



*janji cerita untuk seorang teman, tentang teman kami yang menggemaskan, saat saya dan teman kami itu sedang job training cetak di Surat Kabar Mitra Dialog (sekarang Kabar Cirebon)

Perempuan di Batas Malam

Himpitan Ekonomi Hingga Dijual Suami Seharga Rp 700 Ribu

Kamis (29/1) malam, Cirebon diguyur hujan. Aktivitas terhenti, tapi tidak di sebuah rumah di kawasan Terminal Harjamukti, Kota Cirebon. Penghuninya dua wanita dibalut baju ketat dan celana pendek sepaha, menatap lesu ke arah hujan seraya berharap hujan lekas berhenti. Bagi mereka, hujan bukanlah berkah langit.

“Kalau malam-malam begini hujan, pelanggan sedikit, pendapatan bisa seret. Kalau begini, besok kami makan apa?” ucap Ayi (bukan nama sebenarnya) gundah.

Temannya, Ena (bukan nama sebenarnya), sibuk menyapu blush-on di wajah. Sesekali dari mulutnya keluar sepenggal cerita tentang masa lalunya, yang diselingi hembusan asap rokok.

Ya, mereka adalah bagian dari kehidupan malam Kota Cirebon. Sosok yang ada dan dicari, sekaligus dicaci. Sebut mereka wanita pekerja seks (WPS), pekerja seks komersial (PSK), pelacur atau apapun. Mereka tak akan protes, karena sebutan apapun tak akan serta-merta mengangkat nasib mereka menjadi cemerlang.

“Saya PSK, saya akui itu. Tapi apa orang lain mau peduli nasib kami, mau peduli kenapa PSK seperti saya dan teman-teman ada? Kalau bisa memilih, kami juga enggak mau ngejalanin hidup seperti ini. Capek,” ungkap Ena berapi-api.

PSK kerap dikucilkan, dianggap sebagai bagian di luar masyarakat Kota Wali karena pekerjaan mereka yang kotor. Padahal, seperti apapun mereka, mereka adalah bagian dari Kota Cirebon. PSK juga manusia.


Himpitan Ekonomi Sampai Kecewa Disakiti
Wita (bukan nama sebenarnya), mengaku terpaksa menjadi PSK karena butuh uang. Terdengar klise, tapi inilah yang terjadi. Mayoritas wanita yang beralih profesi menjadi PSK karena desakan ekonomi, berdalih untuk mencukupi kebutuhan tanpa menyusahkan orang lain. Namun inilah realitanya. Rupanya uang cukup kejam untuk mengubah seorang wanita lugu seperti Wita menjadi PSK.

Yana (juga bukan nama sebenarnya), juga mengaku menjadi PSK dengan alasan yang sama. Ia butuh uang untuk menghidupi keempat anaknya, apalagi sekarang ia sedang mengandung 8 bulan. Anaknya yang paling besar masih kelas 6 SD, yang paling kecil baru 11 bulan.

"Suami sudah enggak ada, anak banyak, pekerjaan juga enggak punya. Dulu saya sempat punya pacar yang membantu ngasih makan anak-anak saya, tapi masyarakat di lingkungan rumah malah menyangka macam-macam. Kepalang tanggung dan butuh uang, ya sudah, sekalian saja. Malah saudara yang menganjurkan seperti ini," tuturnya pelan seraya memegangi kandungannya.

Namun tak sedikit pula yang menjadi PSK karena disakiti pasangannya, misalnya Yaya (juga bukan nama sebenarnya). Kecewa karena terus disakiti suami, ia memilih cerai. Apalagi ternyata suaminya pun kerap menduakannya.


Jadi PSK Karena Suami
“Saya dijual suami,” tutur Ena singkat, saat ditanya awal perkenalannya dengan dunia malam. Matanya berkaca-kaca saat mengingat masa lalunya.

Ena, wanita cantik kelahiran Bandung ini sudah dua tahun menjalani profesinya sebagai PSK. Tahun 2002, ibu tiga anak ini dijual suaminya seharga Rp 700 ribu di sebuah losmen di Terminal Harjamukti. Mereka kehabisan uang saat hendak pergi ke Brebes. Saat itulah tercetus ide gila yang didapat suaminya dari seorang tukang becak sekitar terminal.

“Waktu itu saya enggak tahu mau dibawa kemana, cuma dibilang ada yang mau kasih kerja. Enggak tahunya dibawa ke kamar hotel. Mau kabur atau teriak pun enggak berani. Saya terlalu takut dipukul lagi sama suami. Saya cuma bisa nangis. Sedih dan kecewa rasanya dijual suami sendiri,” ucap Ena.

Ena tak pernah mendapatkan nafkah dari suaminya. Suaminya malah menggunakan uang tersebut untuk berfoya-foya bersama wanita lain. Sampai akhirnya Ena mengajukan gugatan cerai. Ia dan anak-anaknya butuh makan. Tak ada pilihan lain, ia pun rela menjajakan diri agar anak-anaknya bisa makan dan bersekolah.

“Ijazah cuma sampai SMP, mau kerja apa? Anak-anak butuh makan dan harus sekolah. Saya enggak mau mereka bodoh, biar gak terjerumus seperti saya,” harapnya.

Mereka Bukan Sampah
Tak ada PSK yang mau menjalani profesinya seumur hidup. Mereka pun ingin hidup layak. Sayangnya, masyarakat seakan menutup mata akan keinginan mereka ini. Jangan lantas karena pekerjaan mereka sebagai pemuas syahwat lalu dianggap tak bisa berhenti. Nunung (bukan nama sebenarnya), sudah membuktikan. Sudah 6 tahun ia berhasil melepaskan diri dari jeratan profesinya. Kini ia merintis usaha warung kelontong. Kecil memang, tapi baginya itu sudah cukup memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

"Susah untuk pensiun dari PSK. Saya bisa berhenti karena selain keinginan kuat, juga sedikit-sedikit menabung dari pendapatan waktu masih jual diri. Begitu terkumpul modal, saya buka usaha warung. Temen-temen PSK juga banyak yang pengen berhenti. Tapi ya itu, bingung cari duitnya nanti gimana," ucap Nunung.

Ena pun mengungkapkan keinginan yang sama. Ia ingin berhenti, tapi bingung karena merasa tak ada keterampilan yang bisa diandalkan.

"Kalo kena razia terus masuk panti memang diajarin keterampilan. Tapi begitu keluar dilepas begitu saja. Enggak diarahkan untuk menggunakan keterampilan yang diajarkan, enggak diberi lahan pekerjaan. Ya akhirnya kami jual diri lagi," keluhnya.

Tiap orang punya masa lalu juga punya kesalahan, termasuk mereka. Tugas kita-lah untuk membantu dan membimbing mereka menemukan kehidupan yang lebih baik, lepas dari dunia PSK. Mereka punya keinginan kuat untuk tak lagi menjual diri, keinginan yang harus kita dukung. Jangan lantas kita mencap mereka sebagai sampah masyarakat lalu menganggap selamanya mereka buruk. Bukan kewajiban kita untuk mengucilkan mereka.

"Kadang sedih, pengen nangis. Saya begini bukan keinginan saya. Saya maunya stop. makanya sekarang nabung dikit-dikit. Tapi warga di lingkungan saya selalu memandang sebelah mata, selalu menjauh. Apalagi ibu-ibunya, mereka takut saya menggoda suami mereka. Padahal terpikir saja enggak. Saya cuma mau cari makan untuk saya dan anak-anak," sesal Ena.

Mereka manusia, sama seperti kita. Mereka bukan sampah yang harus dibuang kala sudah menebar aroma busuk. Tanpa dukungan masyarakat dan pemerintah untuk menaikkan taraf hidup mereka, jumlah PSK tak akan berkurang bahkan bisa saja bertambah. Jangan salahkan mereka. Salahan diri kita masing-masing, yang kurang peka untuk mengulurkan bantuan bahkan cenderung memusuhi mereka.

Cirebon.
*Ditulis untuk Surat Kabar Mitra Dialog (sekarang Kabar Cirebon) 

Jangan Anggap Enteng KDRT

Perempuan selalu digambarkan sebagai sosok yang lembut, bahkan cenderung lemah. Tak heran jika dalam berbagai kasus kekerasan, perempuan-lah yang kerap menjadi korban. Nahasnya, rumah tangga justru produsen terbesar dalam kasus kekerasan terhadap perempuan. Jaringan Relawan Indonesia (JaRI), salah satu LSM yang menangani isu kekerasan terhadap perempuan mencatat lebih dari 200 kasus kekerasan di kota-kota besar, termasuk Kota Cirebon.

Fenomena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sama seperti gunung es. Hanya sejumlah kecil kasus yang terkuak karena mayoritas korban enggan melapor. Alasannya karena malu, namun tak banyak yang justru menganggap KDRT yang menimpanya adalah hal wajar. Ibaratnya bumbu dalam bahterai rumah tangga.


Tak banyak memang perempuan yang mengetahui bahaya KDRT yang mengancam. Kurangnya informasi membuat mereka terbuai dalam kenyamanan.


“Yang lebih buruk, kadang mereka tak tahu tindakan apa yang harus diambil jika mengalami abusive relationship (hubungan penuh kekerasan) atau jika melihat orang lain dalam keadaan seperti itu. Ini yang menghambat penanganan tindak kekerasan terhadap perempuan,” jelas psikolog kenamaan dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Elmira Sumintardja.


Selama ini kekerasan terhadap perempuan, khususnya KDRT dianggap sebagai hal yang biasa. Budaya yang berkembang pun seakan turut ‘melegalkan’. Bisa dikatakan, kekerasan terhadap perempuan adalah produk budaya. Bisa jadi ini muncul dari anggapan masyarakat terhadap citra perempuan dan laki-laki. Posisi perempuan kerap ditempatkan sebagai pihak yang lemah sehingga mudah ditindas.


Repotnya, budaya ini sudah mengakar dalam masyarakat sebagai kesepakatan yang tak tertulis dan menjadi nilai yang kokoh. Laki-laki dianggap sebagai simbol gagah, tegar, dan dominan. Sementara itu, perempuan dianggap sebagai simbol feminim dan lemah lembut.


Tapi apakah menjadi wajar ketika bumbu sebuah hubungan harus diwujudkan berupa kekerasan? Padahal kasus kekerasan terhadap perempuan baik yang terjadi dalam ranah rumah tangga, pencabulan, perkosaan atau yang lainnya sudah menjadi persoalan hukum dan harus diselesaikan. Ini bukan lagi menjadi wilayah domestik keluarga yang bersangkutan, tapi sudah menjadi wilayah publik. Hal ini pun telah diatur dalam Undang-undang No. 23 tahun 2004 mengenai Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT).


Jenis kekerasan yang masuk ke dalam kategori KDRT pun beragam. Bisa berupa kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual atau penelantaran rumah tangga. Menurut Direktur Rifka’s Annisa Women’s Crisis Center (RAWCC), Dra. Elli Nur Hayati, diantara keempat jenis kekerasan tersebut, kekerasan psikis dan penelantaran rumah tangga adalah jenis yang jarang disadari oleh para korban.


“Yang dikategorikan sebagai kekerasan psikologis adalah kebohongan, ancaman, tekanan, cacian baik lewat perkataan atau perbuatan yang berakibat pada minimalisasi kemampuan mental dan otak. Ini yang tidak disadari oleh perempuan, karena selama ini yang mereka tahu hanya kekerasan dalam bentuk fisik,” tegas Elli.


Sedangkan penelantaran rumah tangga, tambahnya, berlaku jika seseorang menelantarkan orang lain dalam rumah tangganya. Penelantaran juga bisa berupa perlakuan yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi atau melarang bekerja.


KDRT tidak berkutat di urusan rumah tangga saja, tapi juga mencakup kekerasan berbasis jender. Seperti kekerasan terhadap istri, pelecehan seksual dan perkosaan, dan kekerasan dalam masa pacaran.


Cirebon.
*Ditulis untuk Surat Kabar Mitra Dialog (sekarang bernama Kabar Cirebon)  

Hamil 9 Bulan Malah Ditendang Suami

Adzan Magrib baru saja selesai berkumandang, namun rintik hujan belum kunjung usai. Dari sebuah jalan setapak, Fika (29, bukan nama sebenarnya), menyeruak dari kegelapan. Ia melangkah pelan menuju sebuah rumah kos-kosan di daerah Harjamukti. Sebentar-sebentar, tangan kirinya mengusap perut buncit yang tertutup setelan piyama biru laut. Terkadang ia terlihat mengernyitkan alis dan dahinya. Wajahnya seperti sedang menahan rasa sakit.

"Aduh, Fik, kamu kenapa lagi? Ayo cepet masuk, awas hati-hati licin," ucap temannya, Rina (35, bukan nama sebenarnya).

Dari nada suaranya, terdengar Rina sangat khawatir akan keadaan Fika. Fika sedang hamil 9 bulan. Kata dokter, usia kandungannya tinggal menunggu waktu untuk lahir. Rina yakin, kali ini ada sesuatu menimpa temannya itu.

"Aku habis dipukuli suamiku lagi, Rin. Kali ini perutku yang jadi sasaran. Besok bisa temenin periksa kan? Aku khawatir, mudah-mudahan bayiku enggak kenapa-kenapa," aku Fika seraya menekuri ubin.

Fika adalah salah satu dari sekian banyak korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Fenomena ini layaknya gunung es, hingga kini belum diketahui secara pasti berapa banyak perempuan korban KDRT. KDRT dianggap tabu dibicarakan dengan orang lain, bahkan cenderung diaku sebagai produk budaya. KDRT dianggap wajar terjadi dalam biduk rumah tangga. Padahal KDRT bukan berada di wilayah domestik keluarga yang bersangkutan, tapi sudah menjadi wilayah publik. Hal ini pun telah diatur dalam Undang-undang No. 23 tahun 2004 mengenai Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT).


Tak Banyak yang Tahu
Dalam pasal 1 ayat 1 UU PKDRT disebutkan, “Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga”.

Sayangnya, tak banyak perempuan yang paham tentang KDRT. KDRT sering dianggap angin lalu. Tutor Divisi Pemberdayaan Perempuan Yayasan Banati, Revita, kerap kesulitan menangani kasus KDRT. Penyebabnya, korban merasa malu dan enggan berbagi kisah.

"Mereka menganggap perlakuan kekerasan dari suami adalah hal yang wajar. Mereka nrimo saja, karena dianggap sebagai hukuman atas kesalahan mereka. Padahal meskipun mereka salah, tetap ada batasan sejauh mana kekerasan diberlakukan," jelasnya.

Akibat minimnya informasi, kadang mereka tak tahu tindakan apa yang harus diambil jika mengalami abusive relationship (hubungan penuh kekerasan) atau jika melihat orang lain dalam keadaan tersebut. Inilah yang menghambat penanganan tindak KDRT. Contohnya pada kasus Fika.

Fika kerap mendapat perlakuan kasar dari suaminya, Andi (31, juga bukan nama sebenarnya). Alasannya sepele, Andi ingin meminta uang untuk berfoya-foya. Terkadang, uang hasil jerih payah istrinya justru dipakai untuk menikmati tubuh wanita lain. Bukannya pura-pura tak tahu dan tak ingin berontak, Fika terlalu takut jika sang suami meninggalkan dirinya.

"Kadang nangis, sedih, marah. Tapi kalau diceraikan, kasihan sama anak ini. Aku berharap Mas Andi akan insyaf setelah anak kami lahir. Mudah-mudahan perilakunya yang suka memukul juga hilang," ucap Fika pasrah, tangannya tak pernah lepas mengelus lembut perutnya.

Ia tak pernah mengonsultasikan KDRT yang menimpanya. Baginya, itu aib keluarga, cukup teman-teman dekatnya saja yang tahu. Selain itu, lembaga yang menangani masalah KDRT di Cirebon pun masih sedikit. Padahal masalah KDRT pun bisa dimejahijaukan, terutama jenis KDRT yang termasuk kategori kekerasan fisik, mengingat bukti bisa didapat dari hasil visum. Apalagi, KDRT tidak berkutat di urusan rumah tangga saja, tapi juga mencakup kekerasan berbasis jender. Seperti kekerasan terhadap istri, pelecehan seksual dan perkosaan, dan kekerasan dalam masa pacaran.


Cirebon.
*Ditulis untuk Surat Kabar Mitra Dialog (sekarang bernama Kabar Cirebon) 

Tuesday, 6 January 2009

Ahh, Dasar PNS...

Sebelumnya, maap-maap aja nih yaa.. Kali aja yang baca ortunya, atau kakaknya, adeknya, sodaranya, kakek-neneknya, om-tantenya, atau sepupunya ada yang PNS. Ini bukan rekayasa. Kalau ada kesamaan cerita, nama, maupun tempat hanyalah kebetulan yang tidak disengaja (biar kaya yang di tipi-tipi itu loh, hihihi).

Jadi, ceritanya,, Tadi siang saya lagi-lagi main ke kantor di mana PNS-PNS bersarang.
Arloji Casio biru kesayangan saya (halah, sebut merk. ahahaha) masih menunjukkan pukul 11.00 WIBdS (Waktu Indonesia Barat dan Sekitarnya).

Well, seinget saya sih, kayaknya dari jaman saya kecil jam istirahat di kantor manapun adalah pukul 12.00.
Tapi yang saya lihat, dari pukul setengah 11, para PNS sudah bersliweran di komplek kantor pemerintahan.

Ada yang makan soto kambing--ini sotonya uma mahal doank tapi rasanya gak enak, ada yang duduk-duduk santai di bawah pohon sambil ngobrol ngalor-ngidul, ada juga yang lagi wara-wiri naik motor. Ah, korupsi tuh. Wara-wiri di jam kerja, dengan menggunakan kendaraan kantor pula. Ahahaha.

Naah, saat saya masuk ke salah satu bangunan kantor, mayoritas pegawainya lagi asyik nonton TV sambil bergosip ria di lobby. Pegawai yang ada di dalam ruangan malah lagi asoy dengerin lagu sambil bergosip di bawah sepoi-sepoi sejuknya AC merk Sharp.
 
Beberapa menit kemudian datang seorang pria tegap mengenakan topi dan berkaos Polo, serta menjinjing tas besar. Mau tahu apa isi tas besarnya? Kaset-kaset DVD!

Iya, kumpulan kaset DVD. Beragam DVD film dan lagu karaoke.
Tampak salah seorang PNS pria yang sudah keliatan beruban asyik membolak-balik beberapa kaset. Temannya gerah untuk berkomentar.

"Duh, Pak Z****l, cari apa sih? Masi cari yang semi yah?"
(Eh, ngerti kan dengan istilah semi? Kalau enggak, mending tanya sama temen-temen cowo kamu dulu deh. Gak enak dijelasin di sini. Bisa-bisa dicap pornografi sama FPI)

Ya ampunn.. Jadi begini rupanya kerjaan PNS kita?

Ckckckck..
Pantes aja kalau urusan rakyat gak selesei-selesei. Hahaha
Udah ah..
Udah Magrib..
Waktunya sholat buat ngapus dosa yang inih. Huehehehe.